Harga Emas Anjlok Empat Hari, Jadi Sorotan Pelaku Pasar

Harga Emas Anjlok 4 Hari, Sentuh Titik Terendah dalam 3 Minggu

Harga emas anjlok selama empat hari berturut-turut dan kini berada di level terendah dalam tiga minggu terakhir. Tren ini memicu kekhawatiran dari para investor yang selama ini mengandalkan emas sebagai lindung nilai terhadap gejolak ekonomi global.

Menurut data perdagangan terkini, harga emas spot tergelincir mendekati level psikologis US$2.300 per ons. Penurunan ini terjadi di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS, dua faktor yang kerap membebani harga logam mulia.

Faktor Penyebab Harga Emas Terjun Secara Berturut

Anjloknya harga emas tidak terjadi begitu saja. Sejumlah faktor eksternal turut mendorong koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir:

  1. Kekuatan Dolar AS
    Indeks dolar AS terus menguat di tengah ekspektasi bahwa The Fed belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Penguatan dolar membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
  2. Kenaikan Yield Obligasi AS
    Yield obligasi tenor 10 tahun AS kembali naik mendekati 4,3%, sehingga menurunkan daya tarik emas yang tidak menawarkan imbal hasil (non-yielding asset).
  3. Data Ekonomi AS Lebih Kuat dari Perkiraan
    Laporan data GDP dan klaim pengangguran mingguan menunjukkan ekonomi AS masih cukup kuat. Hal ini menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga dan mendorong pelaku pasar beralih dari emas ke aset berisiko.

Harga Emas Spot dan Futures Terkini

Pada Selasa malam waktu New York, harga emas spot tercatat di level US$2.317 per ons, turun hampir 1% dari hari sebelumnya. Sementara itu, emas berjangka (futures) untuk pengiriman Agustus di COMEX ditutup di angka US$2.320 per ons.

Level ini merupakan yang terendah sejak awal Juli 2025. Secara mingguan, harga emas sudah terkoreksi lebih dari 3%, memperpanjang penurunan mingguan kedua secara berturut-turut.

Dampak Harga Emas Merosot Terhadap Pasar Domestik

Di Indonesia, penurunan harga emas global juga memengaruhi harga emas Antam dan UBS. Harga emas batangan Antam turun menjadi Rp1.286.000 per gram, sedangkan UBS dijual di kisaran Rp1.273.000 per gram, menurut data dari beberapa platform penjualan logam mulia.

Investor ritel yang membeli emas dalam bentuk fisik pun mulai merasa waswas, terutama bagi mereka yang melakukan pembelian di harga puncak beberapa minggu lalu.

Apakah Harga Emas Masih Menarik Untuk Investasi?

Meski harga emas anjlok beberapa hari terakhir, sebagian analis tetap melihat potensi jangka panjang logam mulia ini. Alasannya:

  • Ketidakpastian geopolitik global seperti konflik di Timur Tengah dan tensi AS-Tiongkok masih tinggi.
  • Inflasi global belum sepenuhnya terkendali.
  • Ketergantungan terhadap aset berisiko seperti saham menurun seiring pasar yang mulai jenuh.

Menurut analis senior di Kitco, harga emas berpotensi pulih kembali. Jika The Fed mulai melunak terhadap kebijakan moneternya menjelang akhir 2025.

Proyeksi Harga Hingga Akhir Tahun 2025

Laporan dari lembaga riset komoditas menyebut bahwa harga emas bisa kembali mendekati US$2.400 jika bank sentral global mulai menurunkan suku bunga. Skenario ini memungkinkan jika data inflasi mulai konsisten turun dalam beberapa bulan ke depan.

Namun, bila tekanan terhadap dolar AS dan yield obligasi terus berlanjut, harga emas bisa terkoreksi hingga ke kisaran US$2.250–2.270 sebelum menemukan dukungan teknikal yang kuat.

Kesimpulan:
Harga emas turun empat hari berturut-turut dan mencatat level terendah dalam tiga minggu terakhir. Dipicu oleh penguatan dolar dan yield obligasi AS. Meski saat ini investor cemas, sebagian analis tetap optimis terhadap prospek emas dalam jangka panjang, terutama bila bank sentral mulai longgar dalam kebijakan moneternya.